Merdeka dari Sudut Pendidikan

- Sabtu, 20 Agustus 2022 | 14:59 WIB
Pict by Prananta Haroun on Unsplash.com.
Pict by Prananta Haroun on Unsplash.com.

Penulis : Sahrul Muhamad, S.Pd. Hulondalo.id - Berbicara Merdeka, nampaknya dari tahun ke tahun sering dipertanyakan, apakah benar sudah Merdeka? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat lumrah di telinga para pemuda. Terlebih kaum akademisi. Secara konkret, memang Indonesia sudah Merdeka karena tidak bergelut lagi dengan yang namanya penjajahan secara fisik. Peperangan, romusa, kekerasan telah hilang saat proklamasi dibunyikan. Meski begitu, kebebasan terasa samar jika dirasakan saat ini. Polemik di Indonesia seakan tidak akan ada habisnya, berdasarkan pencarian yang saya dapat dari databooks.katadata.co.id, Survei KedaiKOPI (2021) melakukan riset menurut anak muda terkait masalah-masalah yang ada di Indonesia. Salah satu di antaranya ialah masalah di bidang pendidikan. Pertanyaan baru kemudian muncul, pendidikan kita, sudahkah Merdeka? Pendidikan menjadi tumpuan dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk bangsa yang Merdeka. Oleh karena itu, pendidikan sangatlah penting untuk diangkat dalam perayaan hari kemerdekaan. Ki Hajar Dewantara sendiri telah menyampaikan konsep pendidikan yang Merdeka adalah pendidikan yang didasarkan pada asas kemerdekaan. Beberapa tahun terakhir, kurikulum Merdeka belajar ramai diperbincangkan dalam dunia pendidikan. Gagasan ini diinisiasi langsung oleh Bapak Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Konsep yang dicanangkan ini merupakan konsep pendidikan yang mengoptimalisasi kemajuan kualitas sumber daya manusia. Lantas apakah sekolah, guru dan siswa sudah benar-benar Merdeka? Atau Merdeka belajar … jargon semata? Hasil survei PISA 2018 menempatkan Indonesia di urutan ke 74 alias peringkat keenam dari bawah, hal ini tentu sangat memprihatinkan, melihat sudah puluhan tahun bangsa ini berdiri tetapi kualitas pendidikan masih sangat minim, bahkan menurut Prof. Lant Princhett seorang peneliti dari Harvard Kennedy School, ia meneliti anak-anak dengan rata-rata umur 15 tahun di Jakarta, mengungkapkan bahwa anak-anak Indonesia tertinggal 128 tahun dari negara-negara lain. Mengapa terjadi hal demikian? Jawabannya adalah kualitas pendidikan. Ketika kita berbicara tentang pendidikan ini berkaitan erat dengan sekolah, dan sekolah tidak lepas dari peran seorang guru. Jika kita tarik ke belakang, kualitas seorang guru itu ditentukan pada saat ia menempa kualitas kompetensinya—semasa perkuliahan. Setelah kita amati, ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Faktor tersebut salah satunya adalah rendahnya kualitas seorang guru. Nampak jelas bahwa rendahnya kualitas guru sangat memengaruhi kualitas pendidikan, bagaimana tidak, beberapa dari mereka belum memiliki profesionalisme yang mumpuni. Selain itu, masih banyak guru yang belum berkompeten pada bidangnya. Jika hal ini terus dibiarkan bangsa kita sulit untuk berkata benar-benar Merdeka. Oleh karenanya, perlu untuk diselesaikan permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, terlebih kompetensi seorang guru. Hal pertama yang harus kita mulai adalah peningkatan kualitas calon guru atau mahasiswa yang notabenenya berasal dari jurusan berbasis pendidikan itu sendiri, yang nantinya akan mengajar di berbagai jenjang pendidikan. Karena itulah penting sekali bagi para calon pendidik untuk meningkatkan kualitas kompetensinya semasa perkuliahan, agar mutu pendidikan di Indonesia dapat dimaksimalkan sehingga mampu bersaing dengan negara-negara lain dan mempersiapkan berbagai tantangan pendidikan untuk masa depan bangsa yang benar-benar Merdeka. (##)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Mau Mudik ? Ini Syarat Mudik Gratis Kemenhub

Senin, 13 Maret 2023 | 13:51 WIB
X