Inflasi Gorontalo Lampaui Nasional, TPID Rekom Gencarkan Operasi Pasar Murah

- Rabu, 6 Juli 2022 | 23:03 WIB
Harga cabai rawit di Gorontalo terpantau naik menjelang hari raya Idul Adha.
Harga cabai rawit di Gorontalo terpantau naik menjelang hari raya Idul Adha.

-
High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah, yang dipimpin Penjagub Hamka Hendra Noer, di Kantor Perwakilan BI, Selasa (5/7/2022). F/Salman. Hulondalo.id - Kenaikan sejumlah bahan pokok di pasar tradisional, menjadi bahwa tingkat inflasi di Gorontalo cukup tinggi. Bahkan dalam rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) kabupaten/kota, terungkap, kalau untuk bulan Juni angka inflasi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional. Tingginya tingkat inflasi Gorontalo, seperti biasa lebih didominasi komoditas volatile foods, seperti cabai rawit, tomat, dan bawang merah. Dalam paparannya, Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo Rony Widijarto Purubaskoro menjelaskan, secara garis besar Tingkat inflasi secara bulanan (mtm) dan tahunan (yoy) pada bulan Juni 2022 lalu sudah mendekati batas atas dari sasaran inflasi tahunan Bank Indonesia yang mencapai 4,35% (yoy). Bahkan kondisi seperti ini sudah terjadi selang 3 tahun terakhir. Monitoring perkembangan harga di PIHPS yang dilakukan Bank Indonesia, mengungkap fakta kalau inflasi di pasar tradisional relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pasar modern. Kenaikan harga dari 3 (tiga) komoditas dari responden tersebut selama 3 (tiga) tahun terakhir ini dapat dikatakan cukup tinggi. "Untuk itu, Bank Indonesia telah berperan dalam membantu ketersediaan pasokan pangan melalui klaster-klaster pangan binaan, dalam hal ini adalah UMKM binaan," ungkap Rony, Selasa (5/7/2022). Gagal panen berkepanjangan akibat tidak menentunya cuaca, disebut sebut sebagai penyebab berkurangnya rantai pasokan komoditas seperti cabai. Padahal sebelumnya Gorontalo surplus produksi cabai, hingga mampu memasok kebutuhan daerah tetangga. Penjabat Gubernur Gorontalo Hamka Hendra Noer yang memimpin rapat dalam arahannya mengatakan, penangan inflasi membutuhan langkah sinergis, responsif dan tepat sasaran. “Kepada seluruh pimpinan OPD terkait, baik di lingkup pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota untuk terus meningkatkan koordinasi, dalam upaya pengendalian inflasi daerah dengan strategi 4K. 4K yang dimaksud yaitu Keterjangkauan harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran distribusi serta Komunikasi yang efektif,” ucap Hamka Ada tiga rekomendasi yang disepakati dalam rapat TPID sebagai bentu quick response terhadap kenaikan bahan pokok jelang Idul Adha itu.
  1. Melaksanakan Operasi Pasar Murah (OPM) secara lebih intensif untuk komoditas bahan pokok yang rentan mengalami peningkatan harga seperti: cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam. (Keterjangkauan Harga)
  2. Memperkuat pelaksanaan Kerjasama Antar Daerah (KAD) khususnya untuk komoditas yang rentan mengalami defisit pasokan di Gorontalo seperti cabai rawit dan bawang merah. KAD Eksisting: GORMANTE (Gorontalo-Manado-Ternate). Rencana KAD: Gorontalo-Sulawesi Tengah (Ketersediaan Pasokan)
  3. Memperkuat ketahanan pangan domestik melalui perbaikan di sisi budidaya (hulu) serta optimalisasi infrastruktur pendukung pertanian untuk meningkatkan produksi tanaman pangan. (Ketersediaan Produksi, Keterjangkauan Harga). (**)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Red Notice Terbit, Polri Buru Tersangka KSP Indosurya

Selasa, 31 Januari 2023 | 21:45 WIB

Pemkab Pohuwato Hadiri Kajian Akbar Muslimah

Sabtu, 28 Januari 2023 | 20:41 WIB

Banjir Melanda Manado, Ketinggian Air Capai 3 Meter

Sabtu, 28 Januari 2023 | 10:01 WIB
X